Pak Naim saya biasa memanggilnya, sosok tinggi sedang dengan ciri khas kaca mata yang tidak pernah lepas ke mana pun beliau pergi. Saya mengenalnya sejak masih duduk di bangku kuliah. Beliau adalah salah satu dosen favorit saya. Mengajar dengan selingan humor dan cerita adalah style- nya yang membuat betah para mahasiswa mengikuti kuliahnya. Penguasaan keilmuan yang mendalam disertai cara mengajar yang simpel dan mengasikan menjadikannya disukai banyak mahasiswa. Masih lekat dalam ingatan saya, perdebatan saya dengannya ketika mengajar ilmu kalam. Kami berdebat seputar sifat wajib Allah bagi aliran muktazilah. Perdebatan tersebut membuat seisi ruang kuliah terdiam karena paham muktazilah begitu ekstrim, menafikan sifat-sifat Tuhan dibandingkan dengan aliran Asy’ariyyah yang begitu gamblang menyifati Tuhan dengan segala Maha Kesempurnaan-Nya. Sejak mahasiswa hingga saat ini, hubungan saya dengan Pak Naim tidak pernah terputus, utamanya pada saat s...
Zakat Untuk Kemanusiaan Dan Kemakmuran Bersama