Langsung ke konten utama

Sensitivitas Sosial Kita Diuji

Dua minggu belakangan masyarakat dihebohkan dengan berita-berita kelaparan akibat wabah covid-19. Berita tersebut berseliweran di jagat media baik elektronik, cetak, maupun sosial. Memang di tengah kondisi sulit ini, banyak masyarakat yang akhirnya kehilangan mata pencaharian karena wabah Covid-19. Entah karena PHK, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), atau memang sulitnya mendapat penghasilan akibat terhentinya aktivitas masyarakat karena kampanye stay at home yang digalakkan oleh pemerintah. Setidaknya ada dua berita viral baik di media cetak, elektronik maupun media sosial tentang berita kelaparan tersebut. 


Berita pertama terjadi di Kota Tanggerang Banten. Dari sana dikabarkan seorang ibu meninggal dunia karena dua hari kelaparan bersama suami dan empat anaknya. Selama dua hari keluarga ini hanya minum air galon karena tidak adanya beras untuk dimasak. Walaupun bantuan pemerintah datang, namun bantuan tersebut telat. Ibu Yuli akhirnya menghembuskan nafas dua hari setelah bantuan datang. 


Di grup whatsaap Baznas Pusat berita ini sempat ramai. Baznas Provinsi Banten yang sempat datang ke rumah duka untuk mengkonfirmasi berita tersebut, memberikan klarifikasi tentang kematian Ibu Yuli karena kelaparan. Baznas Provinsi Banten mengatakan bahwa kematian karena kelaparan tidak betul, kalau keluarga tersebut tidak makan dua hari Baznas Banten membetulkan berita tersebut. Tapi kalau meninggal karena kelaparan menurut mereka tidak. Karena Ibu Yuli sempat membagikan bantuan dari pemerintah dan donatur dua hari setelah bantuan tersebut datang. Karena saking banyaknya bantuan yang berdatangan ke rumahnya. 


Berita kedua datang dari Kabupaten Muara Enim Sumsel. Dua orang ditemukan dalam keadaan kurus dan tidak terawat. Satu terbaring di atas ranjang hanya kelihatan tubuh yang kurus dan tidak bisa bangkit dari tempat tidur. Satu lagi adiknya masih bisa bangkit namun juga sangat kurus. Kedua-duanya sudah tidak makan dalam beberapa hari. Aparat yang menemukan mereka akhirnya membawa mereka ke rumah sakit untuk dilakukan cek kesehatan terhadap keduanya. 


Dua peristiwa ini membuka mata kita, bahwa kemiskinan masih menjadi problem serius bangsa ini. Terlebih di tengah situasi wabah yang tak tahu entah kapan akan selesai. Sensitivitas sosial kita sedang diuji saat ini. Kepekaan sosial kita terhadap lingkungan sekitar sangat membantu saudara-saudara kita yang tengah sedang dirundung paceklik. 


Sedikit apa pun yang kita berikan kepada saudara dan tetangga yang membutuhkan sangat berguna bagi mereka. Di tengah himpitan ekonomi yang serba sulit beras satu, dua kilo atau apapun yang bisa kita berikan akan mampu meringankan beban saudara-saudara kita. 


Kita yakin bahwa di tengah ujian ini, bangsa kita akan mampu melaluinya. Kita punya tradisi-tradisi luhur nan agung. Kita punya budaya gotong-royong, tepo seliro, handarbeni, budaya suguh, gupuh dan aruh yang telah menancap pada sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara kita. 


Kita tidak dilahirkan sebagai negara egois dan individualistik. Bangsa ini telah mengalami berbagai ujian dan cobaan. Dan kita telah lulus melampaui semuanya. Dan hari ini, cobaan itu datang lagi. Gotong royong, kepedulian dan kesetiakwanan memanggil kita lagi untuk saling berbagi dengan sesama. Dan sekali lagi kita pasti akan mampu menghadapi ujian ini.

Komentar

  1. Alhmdulillah... Ilmu lagi dan ilmu lagi...

    BalasHapus
  2. Mantap Pak Supri. Mari istiqamah kan literasi.

    BalasHapus
  3. Semoga ujian ini segera berakhir

    BalasHapus
  4. Semakin memvacm dan menulis maka literasi kita akan bertambah

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengikuti Tren

Salah satu teman bercerita ketika tidak sengaja ketemu di warung STMJ. Ia bercerita bahwa salah satu teman dosen punya penghasilan yang fantastis sebagai seorang youtuber. Konon jumlah subscribnya mencapai satu setengah juta subscriber. Teman youtubernya tadi  bercerita bahwa ketika subscribernya tujuh ratus ribu, pundi-pundi rupiah yang masuk ke kantongnya sebesar tiga puluh lima juta tiap bulannya. Kalau sekarang satu setengah juta, bisa dibayangkan dua kali lipat penghasilannya. Wooww, dalam benak saya kok enak banget pekerjaan ini. Bayangan saya cukup di rumah, bikin konten, posting, tinggal nunggu yang lihat, rupiah cair. Pantesan akhir-akhir ini para artis berbondong-bondong jadi youtuber dadakan. Baim Wong debgan ide-ide gilanya, Sule dan Andre Taulani dengan prank mobil-mobilannya, Angga Candra dengan prank taxi on linenya, Tri Suaka dengan prank suaranya. Yang sudah lebih dulu populer Ria Richis dan Ata Halilintar yang jumlah subscribnya sampai di angka dua puluh ...

Judicial Review Jilid II. Siapa Yang Diuntungkan?

  Rivalitas antar Lembaga Pengelola Zakat (LPZ) nampaknya belum berhenti pasca empat belas tahun diundangkannya undang-undang nomor 23 tahun 2011. Untuk kedua kalinya gabungan Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang terhimpun dalam Indonesia Zakat Watch (IZW) melakukan pengujian UU zakat terhadap UUD 1945. IZW ini dimotori oleh Dompet Dhuafa dan Forum Zakat (FOZ) yang memang sejak dulu getol menyuarakan ketidakpuasan terhadap UU zakat nomor 23 tahum 2011. Pasal-pasal yang diajukan pun hampir sama dengan dengan  Judicial Review  Jilid I yakni 11 pasal dalam UU zakat ( Pasal 5 ayat (1), Pasal 6, Pasal 7 ayat (1), Pasal 16 ayat (1), Pasal 17, Pasal 18 ayat (2), Pasal 19, pasal 20, Pasal 38, Pasal 41, dan Pasal 43 ayat (3) dan ayat (4). Jika disederhanakan dari semua pasal-pasal yang diajukan, semuanya bermuara pada soal kewenangan pengelolaan zakat. Dalam hal ini IZW menganggap bahwa BAZNAS merupakan lembaga superbodi yang mengelola zakat di negeri ini. BAZNAS memiliki kewenangan seba...

Mulai Menampakkan Hasil

Mempersiapkan pembejaran on line membutuhkan waktu yang tidak singkat. Segenap perangkat melalui aplikasi e learning membutuhkan kejelian dan ketelatenan supaya pembelajaran selama satu semester betul-betul siap dan on going . Materi ajar, RPS, absensi dan kontrak kuliah menjadi menu wajib yang harus dipersiapkan ketika kuliah dimulai. Jam menunjukkan pukul 13.30 WIB. Suasana mendung menyelimuti langit di sekitar UIN SATU Tulungagung. Komputer masih kunyalakan sambil memutar lagu-lagu romantis agar tidak kesepian. Kebetulan hari ini hari jumat. Seperti menjadi sebuah tradisi, sehabis sholat jumat, suasana kampus mulai sepi. Banyak dosen dan karyawan yang mungkin sudah bersiap-siap mudik atau sekedar merehatkan badan setelah melalui hari-hari yang melelahkan. Musik Kenny G masih asik menemaniku dengan volume agak kencang. Setelah tengok kanan-kiri, baru kusadari bahwa aku sendirian di ruang Jurusan Bisnis dan Manajemen. Hanya beberapa mahasiswa yang lalu-lalang mengurus berkas-berkas...