Langsung ke konten utama

Spiritualis dan Kontestasi Bakal Calon Legeslatif


Ada saja yang menggelitik bila bertemu dan bercanda dengan sahabat-sahabat Ansor. Ramdahan menjadi bulan yang tidak biasa bagi saya secara pribadi. Banyak penyesuaian waktu yang harus saya lakoni karena ritual-ritual yang ada di dalamnya. Namun, tidak halnya dengan kebiasaan yang satu ini "Ngopi".

Ngopi tetap menjadi kebiasaan ajeg yang saya lakukan di malam hari sejak di pesantren sampai hari ini. Untuk menghilangkan penat dan capek setelah seharian penuh, ngopi menjadi alternatif relaksasi menghilangkan semua pikiran sumpek dan jibek menjelang tidur. Satu cangkir kopi, gojlokan, diskusi ringan-ringan selalu asik untuk menghibur diri dan membuat perasaan menjadi tenang dan lega. Akan tetapi, Kebiasaan ini tidak setiap malam saya lakukan, mungkin satu minggu hanya sekali atau dua kali, itupun setelah semua urusan dengan anak dan istri beres. Mengantar belanja, cari cemilan hingga hanya sekedar jalan-jalan cari angin malam.

Diskusi beberapa malam yang lalu dengan beberapa sahabat Ansor PAC Ngunut membuat saya tergelitik. Setelah ngobrol ngalor-ngidul, tibalah pembahasan pada persoalan politik. Menjelang tahun politik semua obrolan terfokus pada hajat satu ini. Mulai di warung kopi, TV, media sosial hingga di masjid dan mushala. Politik tetap menjadi topik yang enak dan ringan untuk dibicarakan, apalagi menyangkut soal isu pergantian presiden, calon Gubernur/Bupati hingga calon legeslatif (Caleg).

Nah, khusus pembicaraan di malam itu, tibalah pembicaraan kami pada topik yang terakhir "Caleg". Pada hajatan kali ini, ada beberapa teman yang akan maju dalam kontestasi Pileg. Yang menjadi menarik bagi saya adalah keputusan para calon ini untuk maju mendaftar sebagai calon anggota legeslatif (Caleg). Setelah ngobrol lebih dalam dengan teman-teman, ternyata banyak dari teman-teman yang mendasarkan keputususannya pada restu (hasil penerawangan) para ahli spiritualis (kyai, dukun, orang tua, orang pintar, dll). Mereka meyakini bahwa para ahli spiritualis ini memiliki kelebihan dalam mengurai persoalan-persoalan penting yang mereka hadapi.

Spiritualitas digambarkan sebagai kesadaran terdalam manusia yang diperoleh dari pengamalan keberagamaan secara konsisten (Fry Louis W., 2011). Spiritualitas dihasilkan dari lakon seorang individu dalam menjalankan ketaatan kepada Sang Pencipta. Lakon-lakon inilah yang kemudian menghasilkan perilaku baik (saleh) dalam kehidupan mereka. Tak jarang kemudian orang-orang di sekitarnya menganggap sebagai orang suci.

Lakon-lakon ini sekaligus membawa para spiritualis ini dekat dengan Sang Pencipta. Dari sinilah orang-orang tersebut dianggap mampu menangkap sinyal-sinyal Tuhan tentang apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Tak heran, jika kemudian banyak orang yang sowan kepada mereka untuk meminta petunjuk tentang persoalan-persoalan yang mereka hadapi.

Pada musim Pil-Pil (Pilihan legeslatif, kepala daerah, kepala desa dll) seperti ini, para spiritualis kebanjiran job dan tamu untuk mem-back up setiap langkah para calon-calon ini dalam mengambil keputusan. Yang lebih menarik, sebagian teman menuturkan, orang-orang pintar ini tidak hanya berasal dari tempat mereka berdomisili. Ada diantara mereka yang harus menempuh perjalan ratusan kilo meter ke luar daerah menemui mereka untuk meminta pertimbangan. Mereka yakin meskipun menempuh perjalanan jauh, para spiritualis ini jitu dalam memberikan solusi.

Indonesia adalah negara ber-Ketuhanan Yang Maha Esa. Kepercayaan kepada-Nya telah mengakar sejak dulu. Wajar dalam setiap langkah kehidupan warga negara Indonesia didasarkan kepada-Nya. Baik bagi pemeluk agama maupun penganut aliran kepercayaan. Tak terkecuali para caleg-caleg yang akan berkontestasi adu keberuntungan pada momen pileg kali ini. Wallahu a'lam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengikuti Tren

Salah satu teman bercerita ketika tidak sengaja ketemu di warung STMJ. Ia bercerita bahwa salah satu teman dosen punya penghasilan yang fantastis sebagai seorang youtuber. Konon jumlah subscribnya mencapai satu setengah juta subscriber. Teman youtubernya tadi  bercerita bahwa ketika subscribernya tujuh ratus ribu, pundi-pundi rupiah yang masuk ke kantongnya sebesar tiga puluh lima juta tiap bulannya. Kalau sekarang satu setengah juta, bisa dibayangkan dua kali lipat penghasilannya. Wooww, dalam benak saya kok enak banget pekerjaan ini. Bayangan saya cukup di rumah, bikin konten, posting, tinggal nunggu yang lihat, rupiah cair. Pantesan akhir-akhir ini para artis berbondong-bondong jadi youtuber dadakan. Baim Wong debgan ide-ide gilanya, Sule dan Andre Taulani dengan prank mobil-mobilannya, Angga Candra dengan prank taxi on linenya, Tri Suaka dengan prank suaranya. Yang sudah lebih dulu populer Ria Richis dan Ata Halilintar yang jumlah subscribnya sampai di angka dua puluh ...

Judicial Review Jilid II. Siapa Yang Diuntungkan?

  Rivalitas antar Lembaga Pengelola Zakat (LPZ) nampaknya belum berhenti pasca empat belas tahun diundangkannya undang-undang nomor 23 tahun 2011. Untuk kedua kalinya gabungan Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang terhimpun dalam Indonesia Zakat Watch (IZW) melakukan pengujian UU zakat terhadap UUD 1945. IZW ini dimotori oleh Dompet Dhuafa dan Forum Zakat (FOZ) yang memang sejak dulu getol menyuarakan ketidakpuasan terhadap UU zakat nomor 23 tahum 2011. Pasal-pasal yang diajukan pun hampir sama dengan dengan  Judicial Review  Jilid I yakni 11 pasal dalam UU zakat ( Pasal 5 ayat (1), Pasal 6, Pasal 7 ayat (1), Pasal 16 ayat (1), Pasal 17, Pasal 18 ayat (2), Pasal 19, pasal 20, Pasal 38, Pasal 41, dan Pasal 43 ayat (3) dan ayat (4). Jika disederhanakan dari semua pasal-pasal yang diajukan, semuanya bermuara pada soal kewenangan pengelolaan zakat. Dalam hal ini IZW menganggap bahwa BAZNAS merupakan lembaga superbodi yang mengelola zakat di negeri ini. BAZNAS memiliki kewenangan seba...

Mulai Menampakkan Hasil

Mempersiapkan pembejaran on line membutuhkan waktu yang tidak singkat. Segenap perangkat melalui aplikasi e learning membutuhkan kejelian dan ketelatenan supaya pembelajaran selama satu semester betul-betul siap dan on going . Materi ajar, RPS, absensi dan kontrak kuliah menjadi menu wajib yang harus dipersiapkan ketika kuliah dimulai. Jam menunjukkan pukul 13.30 WIB. Suasana mendung menyelimuti langit di sekitar UIN SATU Tulungagung. Komputer masih kunyalakan sambil memutar lagu-lagu romantis agar tidak kesepian. Kebetulan hari ini hari jumat. Seperti menjadi sebuah tradisi, sehabis sholat jumat, suasana kampus mulai sepi. Banyak dosen dan karyawan yang mungkin sudah bersiap-siap mudik atau sekedar merehatkan badan setelah melalui hari-hari yang melelahkan. Musik Kenny G masih asik menemaniku dengan volume agak kencang. Setelah tengok kanan-kiri, baru kusadari bahwa aku sendirian di ruang Jurusan Bisnis dan Manajemen. Hanya beberapa mahasiswa yang lalu-lalang mengurus berkas-berkas...