Pak Naim saya biasa memanggilnya, sosok tinggi sedang dengan ciri khas kaca mata yang tidak pernah lepas ke mana pun beliau pergi. Saya mengenalnya sejak masih duduk di bangku kuliah. Beliau adalah salah satu dosen favorit saya. Mengajar dengan selingan humor dan cerita adalah style-nya yang membuat betah para mahasiswa mengikuti kuliahnya.
Penguasaan keilmuan yang mendalam disertai cara mengajar yang simpel dan mengasikan menjadikannya disukai banyak mahasiswa. Masih lekat dalam ingatan saya, perdebatan saya dengannya ketika mengajar ilmu kalam. Kami berdebat seputar sifat wajib Allah bagi aliran muktazilah. Perdebatan tersebut membuat seisi ruang kuliah terdiam karena paham muktazilah begitu ekstrim, menafikan sifat-sifat Tuhan dibandingkan dengan aliran Asy’ariyyah yang begitu gamblang menyifati Tuhan dengan segala Maha Kesempurnaan-Nya.
Sejak mahasiswa hingga saat ini, hubungan saya dengan Pak Naim tidak pernah terputus, utamanya pada saat saya membutuhkan narasumber untuk mengisi seminar-seminar organisasi yang saya geluti seperti di Ma’arif, MUI, dan lain sebagainya. Bahkan, sampai saat ini saya masih tetap menjadi murid beliau di Pascasarjana UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung pada Prodi Manajemen Pendidikan Islam. Secara kebetulan juga, beliau menjadi promotor untuk disertasi saya.
Banyak orang mengenalnya sebagai
pegiat literasi. Keistikamahan dan ketekunan dalam dunia tulis-menulis menjadi personal
branding bagi Pak Naim. Tulisannya banyak menghiasi kolom-kolom koran dan majalah serta grup-grup WAG di
mana pun Pak Naim bergabung di dalamnya. Selian itu, beliau juga aktif mengajak
orang lain untuk membaca dan menulis. Satu hal yang saya ingat dari beliau “sepintar
apa pun kamu, jika kamu tidak mempunyai karya sama dengan bohong. Kenapa karya
ulama-ulama dulu bisa kita nikmati sampai hari ini?, karena mereka menuliskan
ide dan gagasan mereka dalam sebuah tulisan (kitab)”. Kata-kata beliau yang membuat
saya merenung dan pada akhirnya memotivasi saya untuk menulis.
Tanpa kita sadari, semua kitab-kitab yang kita kaji baik di madrasah diniyah maupun pesantren merupakan tulisan yang dibukukan menurut bab-bab dan disiplin ilmu masing-masing. Ihya ‘ulumuddin, fatkh al-qarib, al-‘imrithi, al-jurumiyah, sharaf, ‘uqud al-lijain, tijan al-dhurori dan lainnya adalah karya nyata dari pendahulu-pendahulu kita yang dihasilkan dari sebuah kajian dan kemudian dituliskan dalam lembaran-lembaran disusun dalam sebuah disiplin ilmu yang pada akhirnya menjadi karya monumental yang bisa dinikmati oleh generasi-generasi berikutnya.
Dari situ, saya menjadi paham dan mengerti, sehebat apa pun seorang ilmuwan, ulama atau pun cendekiawan tanpa disertai karya yang dilahirkan darinya, ibarat melukis di atas air, intelektual tapi tidak meninggalkan bekas. Kasus ini jamak terjadi pada kalangan intelektual kita, banyak penceramah ngacor di atas podium, banyak pakar berdebat di layar TV, dan banyak akademisi berseminar namun tidak merujuk pada karya yang mereka hasilkan karena mereka tidak punya karya. Hasilnya sudah bisa ditebak kering, garing, tanpa makna, dan luput dari pengembangan pengetahuan.
Motivasi dari beliau inilah yang
mendorong saya untuk mencoba menggerakkan pena dan mulai menulis. Step
pertama yang beliau ajarkan untuk menulis sesuatu yang sederhana dan mudah. Rutinitas
setiap hari, peristiwa penting, maupun kejadian-kejadian unik yang kita alami.
Beliau selalu berpesan kepada murid-muridnya jangan menulis sesuatu yang sulit
dan berbobot. Menulis butuh kebiasaan, untuk membiasakannya kita perlu berlatih
secara kontinyu dan ajeg. Menulis melibatkan seluruh cipta, rasa, dan
karsa agar tulisan kita benar-benar hidup dan enak untuk dinikmati.
Alhamdulillah, sampai saat ini tiga
buku telah saya tulis berkat bimbingan Pak Naim. Sebagai seorang dosen mungkin
jumlah tersebut sangat kecil. Namun, bagi saya sangat besar mengingat dunia
tulis-menulis sudah saya tinggalkan sejak lama. Kiprah saya banyak saya
habiskan menggeluti bidang zakat dan wakaf. Berangkat menulis dari sesuatu yang
mudah membuat saya tergerak juga untuk membaca. Semakin banyak menulis tanpa
diimbangi membaca, rasanya seperti sayur tanpa garam, berbaris-baris namun rasanya
hambar.
Bagi seorang pemula, menghasilkan
tiga buku tentu sangat berdarah-berdarah. Itu pun belum berbicara konten yang
ada di dalamnya. Bagi saya yang paling penting terbit dulu, soal bagaimana isi
di dalamnya masih membutuhkan waktu belajar lagi bagaimana menghasilkan tulisan
yang bagus dan syarat akan makna. Pepatah
Jawa mengatakan “alon-alon penting kelakon”.
Sosok seperti Pak Naim memang jarang ditemui
pada banyak orang. Keistikamahan dan ketelatenan beliau dalam membimbing
murid-muridnya untuk menulis patut diacungi jempol. Beliau tidak hanya
menyuruh, namun beliau memberikan contoh terlebih dahulu. Hampir setiap hari
beliau memposting satu-dua unggahan di grup-grup Whatsaap yang beliau
bimbing. Bangun pagi menyalakan hand phone tulisan beliau sudah nongol
terlebih dulu sebelum tulisan-tulisan yang lain.
Selain telaten dan istikamah, beliau
juga mau berbagi ilmu dengan siapa pun terkait tulis-menulis. Satu hal yang
tidak banyak saya temui pada tokoh-tokoh intelektual di mana pun. Beliau tidak
canggung dan mau menyempatkan diri hanya untuk sekedar memberikan materi dan
ngobrol seputar tulis-menulis di cafe maupun warung kopi, meskipun yang beliau
hadapi adalah seorang pemula yang belum kenal sama sekali tentang dunia
tulis-menulis. Banyak orang yang gengsi dan merasa pandai dalam hal tulis-menulis,
namun pada kenyataannya tulisan dan karya mereka belum layak untuk dijadikan
rujukan dan disuguhkan kepada khalayak umum. Mereka cenderung banyak mengkritik
dan ngrasani (mengunjing) karya-karya yang dilahirkan orang lain. Mereka
tidak mengaca bahwa melahirkan sebuah tulisan memerlukan energi besar agar
layak dinikmati pembaca. Belajar secara telaten dan tekun adalah kunci
agar menulis menjadi fashion bagi kalangan akademisi baik dosen maupun
guru.
Hal lain yang bisa saya ambil dari sosok
Pak Naim, beliau tidak ingin menjadi orang yang pinter dewe (pintar
sendiri) dengan kelebihan yang beliau miliki. Beliau mau terjun sampai ke tingkat
yang paling dasar membina, berbagi ilmu, melatih dalam hal tulis-menulis
sebagai bagian tanggung jawab akademik dosen mengajar, mengabdi, dan melakukan
penelitian. Kesibukan beliau di tengah-tengah pekerjaan rutin mengajar di
kampus tidak mengurangi semangat beliau berbagi ilmu dan mengabdikan diri untuk
pengetahuan.
Banyak orang yang telah terbantu dan
menerima manfaat pengabdian yang beliau lakukan. Banyak dosen, guru, pemerhati
pendidikan, bahkan orang yang tidak konsen dalam dunia pendidikan tercerah kan
dengan ide dan gagasan yang beliau plokamirkan. Kini, ratusan buku telah diterbitkan,
tulisan-tulisan banyak berseliweran di jagad media sosial berkat kegigihan
beliau berbagi ilmu untuk menulis dan menulis. Sebagian orang mungkin
menganggap remeh tulisan itu, akan tetapi tidak bagi saya. Sekecil dan
sesedikit apa pun sebuah karya, ia layak mendapat apresiasi. Agama kita
mengajarkan, adakah sama orang yang mengetahui dengan orang yang tidak
mengetahui?, adakah sama orang yang melakukan dengan orang yang tidak melakukan?,
adakah sama orang yang duduk yang tidak mempunyai ‘uzur dengan orang pergi
berjihad di jalan Allah?.
Tentu jawabnya tidak sama, orang
berilmu berbuat dengan ilmunya, orang bodoh berbuat dengan kebodohannya dan
akan tersesat. Orang yang melakukan (berbuat) akan diganjar dengan
perbuatannya, orang yang tidak berbuat selamanya akan jadi penonton. Orang yang
duduk tidak akan mendapat pahala berjihad, sedangkan orang yang berjihad akan
mendapat balasan surga dan kemuliaan di sisi-Nya meskipun nyawa taruhannya.
Membaca dan menulis merupakan ruh agama
kita. Semua amal perbuatan harus dilandasi pengetahuan agar tidak tersesat di
jalan setan. Satu orang ‘alim dan mengamal kan ilmunya yang sedang tidur lebih
berat bagi setan untuk digoda dari pada seribu orang bodoh yang sedang
beribadah. Membaca dan menulis adalah gerbang untuk mengetahui hakikat dari
agama kita. Yang Maha Kuasa bisa dicapai dengan pengetahuan yang kita miliki
dan kita bisa mengetahui hakikat penciptaan kita dengan ilmu yang kita miliki.
Selamat kepada Prof. Ngainun Naim,
M. H.I atas pencapaian tertinggi gelar akademiknya, Guru Besar Filsafat Pendidikan
Islam UIN Sayyid Ali Rahmatullah. Semoga anugerah ini semakin memberikan
manfaat dan berkah bagi umat. Kami selalu menunggu tetesan-tetesan ilmu yang
engkau berikan, agar kami selalu belajar dan mengerti tentang tugas dan
tanggung jawab kami sebagai seorang akademisi.
Ahmad Supriyadi, lahir di Tulungagung pada 20 November 1984, menamatkan pendidikan pada jurusan Manajemen Pendidikan Islam Pascasarjana S-2 STAI Diponegoro Tulungagung. Bekerja sebagai dosen Manajemen Zakat dan Wakaf Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Selain sebagai dosen, aktif sebagai pegiat zakat dan wakaf, menjadi konsultan di BAZNAS Tulungagung dan anggota Badan Wakaf Indonesia (BWI) Perwakilan Tulungagung.
Top markotop pak... luar biasa...
BalasHapusMantab sekali Bapak Supri. Aamiin..
BalasHapusMatur suwun
BalasHapusMasyaallah 👍🙏🙏
BalasHapusMatur nuwun swdoyo mawon atas atensinya
BalasHapus