Momentum akhir dan awal tahun, menjadi muhasabah dan refleksi bagi siapa pun. Sebagaimana kata pepatah arab, "waktu adalah pedang, jika kamu tidak memotongnya, maka ia akan membunuhmu. Waktu tidak bisa dihentikan, akan tetapi kita harus mengikutinya, salah satu cara memotong waktu adalah dengan memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, agar kelak tidak ada penyesalan di kemudian hari.
Muhasabah dan refleksi diperlukan agar gambaran-gambaran peristiwa yang telah dilalui bisa dijadikan pancatan dan pijakan untuk masa yang akan datang. Atas dasar peristiwa yang telah lalu, setiap orang akan memperoleh gambaran, rencana, dan harapan tentang apa yang akan dilakukan di tahun-tahun yang akan datang.
Secara pribadi, sebuah kenikmatan yang besar di akhir dan awal tahun ini, saya masih diberikan nikmat kesehatan, satu anugerah yang tidak ternilai harganya. Nikmat iman dan kesehatan ini adalah sesuatu yang sangat saya syukuri dan saya jaga sebagai bentuk terima kasih saya kepada Sang Maha Pencipta yang telah menganugerahkan semuanya.
Sebagai pegiat zakat pada akhir dan awal tahun ini, saya juga ingin memberikan refleksi dan muhasabah tentang perjalanan pengelolaan zakat yang terjadi selama satu tahun ini serta harapan-harapan di tahun yang akan datang.
Tahun 2020 boleh dikatakan sebagai tahun pertaruhan bagi lembaga-lembaga zakat, tak terkecuali bagi Baznas Tulungagung. Pada tahun 2020 menjadi momentum yang fenomenal. Pada tahun ini, Baznas Tulungagung mampu melampaui perolehan pengumpulan dalam Rencana Keuangan Anggaran Tahunan (RKAT) yang telah ditetapkan. Pada RKAT 2020, Baznas Tulungagung menargetkan perolehan 3,6 milyar. Sampai dengan tutup buku akhir tahun 31 Desember 2020, Baznas mampu menghimpun 4,7 milyar, terjadi kenaikan 1,1 milyar.
Dari sisi pendistribusian Baznas Tulungagung mampu melakukan serapan anggaran 98 %. Artinya, Baznas Tulungagung dapat menyalurkan amanah dari para muzaki, munfiq, dan mutashadiq tepat sesuai tahunnya dan sesuai dengan sasarannya.
Tahun 2020 sekaligus menjadi tahun yang berat bagi lembaga-lembaga zakat. Pandemi Covid-19 yang melanda mulai maret 2020, menjadi pukulan berat bagi sektor perekonomian semua negara di dunia. Justru yang menarik, meskipun terjadi resesi ekonomi, animo masyarakat untuk berzakat, berinfak, dan bersedekah tidak surut. Bahkan sebaliknya, pada situasi ekonomi yang terpuruk, minat masyarakat untuk mendonasikan hartanya semakin meningkat. Situasi krisis semakin memicu umat Islam untuk bahu-membahu serta tolong-menolong kepada saudaranya yang terdampak Covid-19.
Tahun 2020 juga sekaligus menjadi duka bagi lembaga-lembaga zakat. Pada tahun yang sama, dunia perzakatan agak tercoreng dengan ulah sebagian Lembaga Amil Zakat yang menyalahgunakan dana zakat, infak, dan sedekah untuk pendanaan teroris dan radikalisme di Indonesia. Sebuah aib yang belum pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.
Secara pribadi saya menganggap hal tersebut sebagai lecutan bagi lembaga-lembaga pengelola zakat untuk lebih berhati-hati, profesional, dan taat terhadap peraturan perundang-undangan yang ada. Lebih baik terlambat menyadari dari pada tidak sama sekali.
Akhir tahun 2020 ditutup dengan manis oleh Baznas Tulungagung. Setidaknya, Baznas Tulungagung mendapat dua kado indah di penghujung tahun. Pertama, terbitnya Peraturan Bupati tentang fasilitaai zakat, infak, dan sedekah bagi ASN dan pegawai BUMD di Kabuapten Tulungagung. Kedua, Baznas Tulungagung masuk 20 lembaga zakat dengan indeks transparansi tertinggi di Indonesia. Persisnya, Baznas Tulungagung berada di urutan nomor enam dengan nilai indeks 0,89. Provinsi Jawa Timur mengirim dua perwakilan, Baznas Gresik dengan nilai indeks 0,91 dan Baznas Tulungagung 0,89.
Nilai tersebut naik enam digit dibandingkan tahun sebelumnya, yaitu 0,83. Dengan demikian Baznas Tulungagung mengalami peningkatan secara signifikan dalam hal transparansi dibanding tahun sebelumnya. Artinya, dalam segi transparansi, tidak diragukan lagi bahwa Baznas adalah lembaga yang senantiasa menjunjung tinggi prinsip amanah, profesional dan transparansi.
Pencapaian tersebut adalah kerja keras semua pihak, mulai dari Pimpinan, pelaksana, UPZ, Pemerintah Daerah, Kementerian Agama, muzaki dan mustahik. Kerja keras yang harmonis serta dilandasi semangat memperjuangkan kaum dhuafa untuk lebih sejahtera.
Kini, tahun 2021 telah menyambut dengan harapan baru. Pilihannya hanya ada tiga, terus maju, stagnan, atau mundur. Jika stagnan atau bahkan mundur tentu satu pilihan yang konyol. Dengan segala dukungan yang dimiliki oleh Baznas Tulungagung, tidak ada pilihan kecuali semakin bekerja keras dan memacu diri.
Tindaklanjut Peraturan Bupati sudah ditunggu, kerjsama dan koordinasi dengan Lembaga Amil Zakat untuk menepis anggapan masyarakat tentang penyalahgunaan dana zakat sudah dinanti. Pada tahun 2021 juga terdapat hajat rutin Baznas, yaitu pergantian pimpinan Baznas. Tidak terlalu penting siapa yang akan menjadi pimpinan berikutnya. Siapa pun yang menduduki kursi Pimpinan berikutnya, entah dari pimpinan lama atau ada muka-muka baru, semangat untuk terus meningkatkan pengelolaan zakat harus terus disuarakan. Jangan kasih kendor........ Wallahu 'alam.


Komentar
Posting Komentar