Dalam surat Al-lail Ada enam ayat yang bersanding dan saling berkebalikan maknanya. Enam ayat ini adalah salah satu bukti bahwa Al-Qur'an mempunyai gaya bahasa yang tinggi dan indah. Bukan sekedar dibaca kelihatan indah layaknya syair yang dibuat oleh para penyair pada zaman jahiliyah, lebih dari itu, selain gaya bahasa yang tinggi, Al-Qur'an memiliki makna yang mendalam sebagai sebuah kitab suci bagi umat akhir zaman.
Seorang Umar Ibnu Khattab yang dikenal bengis dan kejam, akhirnya rontok keimanannya di hadapan Al-Qur'an. Ketika membaca Surat Taha, yang dijarkan oleh Chabab bin Arat kepada adiknya Fatimah binti Khatab dan iparnya Sa'id bin Zaid bin Amr, Umar gemetar dan luluh hatinya. Umar tahu bahwa gaya bahasa dan sastra yang dimiliki oleh Al-Qur'an tidak mungki dibuat oleh manusia. Umar adalah ahli sastra kenamaan di zamannya. Walaupun mempunyai watak yang keras, namun hatinya sangat lembut. Hal itu disebabkan karena kegemarannya pada sastra.
.فَاَمَّا مَنْ اَعْطَى وَالتَّقَى .وَصَدَّقَ بِااْلحُسْنَى فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى. واَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى.وَكَذَّبَ بِااْلحُسْنَى فَسَنُيُسِّرُهُ لِلْعُسْرَى
Artinya : (Adapun orang yang memberikan memberikan) menginfakkan hartanya di jalan Allah (dan bertaqwa) kepada Allah. Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka kami akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak kami akan menyipkan baginya (jalan) yang sukar. (Q.S. Al-Lail : 5-10)
Yusuf Qardawi dalam bukunya Hukum Zakat memberikan keterangan yang sangat indah dalam mengupas ayat tersebut. Menurut Qardawi, Allah menggabungkan kata "memberi (اعطى)" dengan "membenarkan ( صدق)" dan "kikir (بخل)" dengan "dusta (كذب)".
Pada ayat di atas, Allah menggabungkan kata "memberi" dengan "membenarkan". Artinya, orang yang memberi (berzakat) adalah orang yang membenarkan keimannyanya tentang hari kiamat dan adanya balasan terbaik (surga). Sedangkan kata "kikir" disandingkan dengan kata "dusta". Artinya, orang yang kikir (menahan) zakatnya adalah orang yang mendustakan keimanannya. Mereka tidak mempercayai adanya balasan terbaik dan memilih neraka sebagai jalan akhir kehidupan mereka.
Kata صدق mempunyai banyak arti. Apabila berkaitan dengan perkataan, maka kata صدق berarti benar/jujur. Shadiq ( ٌصَادِق ) adalah orang yang selalu jujur dalam pekataan dan perbuatannya. Apabila kata صدق berhubungan dengan perempuan, maka maknanya adalah keseriusan, ketulusan, dan kebenaran cinta seorang laki-laki kepada perempuan yang dinyatakan dalam sebuah ikrar janji suci setia, sehidup-semati baik dalam keadaan senang maupun susah yang ditandai dengan pemberian mahar. Jika kata صدق bersanding dengan harta, maka maknanya adalah zakat ( ٌصَدَقَة ). Artinya, orang yang memberi (berzakat) adalah orang yang membenarkan keimannnya. Bahwa harta yang mereka miliki adalah pemberian Allah, dan perintah berzakat adalah perintah Allah. Memberikan harta kepada orang fakir dan miskin berarti membenarkan perintahnya.
Rasulullah SAW bersabda:
ٌاَلصَّدَقَةُ بُرْهَان
Artinya : Sedekah itu adalah bukti.
Zakat adalah bukti kebenaran iman dan membenarkan adanya hari kiamat.
Banyak orang menyepelekan kebenaran ayat ini. Secara kasat mata zakat memang mengurangi harta. Namun dibalik itu, ada keberkahan, kesucian, pertumbuhan, kebiakan dan pertambahan. Kesemuanya itu hanya dimiliki dan diaykini oleh orang yang mempunyai keimanan. Mereka yang telah menunaikan zakat adalah orang-orang yang membenarkan keimanannya. Wallahu 'alam.

Ketika berzakat ada keberkahan, pertambahan dan kebaikan.
BalasHapusTulisan yang penuh ilmu
Mantab
BalasHapusMantab
BalasHapusMantab
BalasHapusZakat dan shodaqoh sama tapi beda
BalasHapus