Sekilas judul tersebut mirip dengan jargon salah satu merek perusahaan otomotif besar di Indonesia. Ya, Suzuki sebagai salah satu pabrikan motor dari Jepang menggunakan slogan ini untuk membranding produk mereka agar tetap laku di pasaran. Walaupun belakangan dalam hal penjualan, Suzuki selalu kalah, bahkan di nomor buntut dibandingkan dua kompetitor raksasa lainnya yaitu Honda dan Yamaha.
Slogan tersebut menurut saya sangat relevan dan patut untuk direnungkan. Kata inovasi sejak dulu menjadi bahan kajian dan perdebatan di antara para pakar dan ahli. Bahkan, pada abad ini inovasi menjadi kata kunci penentuan perubahan di zaman yang serba canggih. Setiap orang, perusahaan, atau lembaga pendidikan yang ingin bertahan di tengah kerasnya kompetisi harus berinovasi, apabila tidak ingin dilindas perubahan zaman.
Mendengar kata “inovasi”, pikiran orang biasanya akan tertuju pada berbagai upaya untuk menemukan hal baru, hal yang berbeda dari yang telah ada, hal yang memiliki nilai lebih, atau dalam sebuah tindakan, bagaimana melakukan terobosan, gebrakan yang berbeda yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Dalam bentuk negatif, inovasi juga dapat diasosiasikan sebagai bentuk ketidaknyamanan berkaitan dengan sebuah perubahan tersebut.
Kata inovasi kerap disandingkan dengan kata kreasi. Dua kata yang hampir mustahil dipisahkan dalam upaya menghasilkan sesuatu yang baru. Dua kata ini meiliki ruang dan out put yang berbeda. Kreasi adalah kemampuan berfikir yang menghasilkan ide dan gagasan-gagasan baru, sedangkan inovasi adalah buah dari gagasan dan ide yang dituangkan dalam ranah realitas.
Para ahli mendefinisikan kreasi sebagai ide atau pemikiran dan penemuan yang mendatangkan hasil yang baru atau relatif baru yang berkisar pada berpikir kreatif dan hasil kreatif (dalam Suryosubroto, 2009: 220-221), sedangkan Inovasi menurut UU No. 19 Tahun 2002 adalah suatu kegiatan penelitian, pengembangan, dan atau perekayasaan yang dilakukan untuk pengembangan penerapan praktis nilai dan konteks ilmu pengetahuan yang baru, atau pun cara baru untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sudah ada ke dalam produk atau pun proses produksinya.
Dua pendapat di atas menunjukkan bahwa kreasi berada di ruang imajinasi yang cenderung abstrak dalam bentuk ide dan gagasan, sedangkan inovasi adalah produk nyata hasil dari ide dan gagasan tersebut.
Tak dapat dipungkiri bahwa kreasi dan inovasi adalah kebutuhan pokok pada zaman ini. Seiring dengan perkembangan teknologi, perubahan kehidupan manusia dalam berbagai bidang juga mengalami perubahan yang cepat. Tarulah dulu kita mengirim surat pakai tulisan di atas kertas, butuh waktu berhari-hari, bahkan berminggu-minggu agar surat itu sampai. Kini, dengan inovasi teknologi tidak perlu repot-repot menulis di atas kertas, tidak usah ke kantor pos untuk mengirim surat, dan tidak usah menunggu berhari-hari. Bangun tidur anda cukup menatap layar kecil, ketik yang anda inginkan, dan kirim ke nomor yang anda inginkan, hitungan detik pesan anda akan sampai.
Rekayasa teknologi yang dihasilkan dari kreasi dan inovasi manusia mampu menembus ruang dan waktu. Dari sanalah kecepatan pola kehidupan manusia juga mengalami perubahan yang drastis.
Dalam konteks kekinian, dibutuhkan sosok yang punya kreativitas dan inovasi tinggi untuk memimpin sebuah perusahaan atau lembaga. Dalam konteks kepemimpinan, kreativitas dan inovasi hal yang wajib dimiliki oleh seorang pemimpin. Selain cerdas, integritas tinggi, dan visioner, pemimpin harus meiliki kemampuan berkreasi dan berinovasi.
Tidak selamanya krativitas dan inovasi dilahirkan dari gagasan-gagasan dan ide-ide yang njlimet. Hal-hal sederhana kadang mampu melahirkan kreasi dan inovasi yang berefek besar. Juga tidak perlu berfikir keras dan ngengkleng untuk menghasilkan sebuah kreasi dan inovasi, kadangkala ia lahir dari sebuah ketidaksengajaan dari sebuah peristiwa yang dialami.
Bagi lembaga zakat, kreasi dan inovasi menjadi kebutuhan pokok yang tidak terhindarkan. Untuk tetap eksis dan dipercaya muzaki, dibutuhkan ide-ide brilian. Satu hal yang perlu dicatat bahwa sistem zakat di indonesia menganut voluntary system. Artinya, zakat ditunaikan atas kesadaran individu masing-masing. Indonesia tidak menganut obligatory system layaknya Arab Saudi, Qatar, dan beberapa negara Islam lainnya. Di negara tersebut zakat adalah sebuah kewajiban publik yang harus dijalankan layaknya pajak.
Karena menganut voluntary system, dibutuhkan kreasi dan inovasi tinggi untuk menarik minat umat Islam agar mengeluarkan zakatnya. Salah satu kunci sukses lembga zakat dalam hal kreasi dan inovasi adalah penawaran program yang menarik dan trasnparan.
Program santunan yatim adalah sesuatu yang biasa kita lakukan, uang dikumpulkan kemudian dibagi-bagi pada anak yatim. Tapi kalau muzaki diajak ke mal, meraka diminta untuk menjadi orang tua asuh sehari, membelikan baju lebaran, peralatan sekolah kemudian buka bersama. Tentu rasanya berbeda, mereka bertatap muka langsung dengan mustahik, bisa interview dengan anak yatim yang diasuh, dan bisa mengetahui bagaimana kesehariannya. Yang tak kalah penting transparan, siapa yang dibantu jelas, berapa uang yang dikeluarkan juga jelas.
Bagi muzaki, program ini tentu sangat menyenangkan dan menarik. Berhadapan langsung dengan mustahik yang dibantu tentu akan membawa kebahagiaan tersendiri bagi mereka. Kendala selama ini yang dialami lembaga zakat adalah mengabarkan kondisi mustahik pada muzaki, kebanyakan muzaki tidak bisa terlibat langsung dalam pendistribusian yang dilakulan oleh lembaga zakat. Hal ini berakibat pada lemahnya kepercayaan pada lembaga zakat. Bayang-bayang penyalahgunaan mengiang-ngiang di benak mereka. Dengan melibatkan mereka pada saat pendistribusian, dapat mengikis prasangka ini.
Belakangan muncul aplikasi seperti kita bisa.com yang menyajikan kondisi real mustahik dengan fitur yang ada di dalamnya. Tentu inovasi ini sangat membantu dan menyakinkan muzaki untuk berminat dan peduli kepada mustahik yang akan dibantu.
Dapat dipastikan bahwa kreasi dan inovasi menjadi kunci keberhasilan dan eksistensi lembaga zakat dan bahkan semua bidang yang melibatkan layanan publik. Mereka yang kalah dalam bidang kreasi dan inovasi akan disalip oleh mereka yang selalu berkreasi dan berinovasi.
Sudah tidak zamnnya apabila menganggap diri kita atau lembaga kita yang paling punya kelebihan, karena perubahan bisa dihasilkan dalam waktu detik dan menit. Hidup di zaman sekarang harus berpikiran terbuka, peka terhadap perubahan dan beradaptasi dengan teknologi agar tidak dilindas oleh perubahan. Wallahu 'alam.

Mpun wekdale di bukukan ini ustadz...
BalasHapusTulisan zakat nya selalu luar biasa
😂😂😂 siap bu
BalasHapusInovasi dalam muamalah
BalasHapusAgar bermanfaat pak
HapusMantab, dinamis dan inovatif...
BalasHapusPokok nulis pak ansori
Hapus